"Terkadang, suatu hubungan bisa saja tiba-tiba putus walau tanpa kata putus."
"Anak
kita nanti bernama Bagas, Lintang, Langit, dan Laut." Ucapnya lugu
seraya menarik-narik ingus yang membuat suaranya terdengar lucu. Aku
hanya membalas perkataannya dengan tawa kecil yang tidak memekikan
telinga.
"Matahari,
Bintang, Langit, dan Laut. Sepertinya nama-nama anak kita nanti
menyejukkan sekali ya. Mereka pasti jadi anak yang baik, tumpuan segala
harapan kebaikan." Aku menanggapi pendapatnya, nampaknya dia sangat
suka dengan ucapan yang kulontarkan tadi. Lalu, kami saling tertawa
bersama. Mengganti topik nama anak menjadi topik agama dan ras.
Ya,
pembicaraanku dengannya selalu saja berat, selalu saja tidak seperti
pembicaraan orang yang sedang berpacaran. Seringkali kami berdiskusi
banyak hal, persoalan yang awalnya buta dan gelap menjadi hal yang
terlihat dan terang. Itulah masa yang tidak pernah aku temukan lagi
saat ini, karena selalu saja masa lalu yang kita inginkan kembali, tidak akan pernah kembali.
Dia
seorang mahasiswa berkacamata dengan tinggi badan sekitar 180
sentimeter. Bermata sipit, berhidung cukup pesek, berkulit putih, dan
wajahnya memang tercipta sangat oriental dan sangat cina. Dia kuliah di
fakultas teknik pertambangan, di salah satu universitas di daerah
Yogyakarta. Seringkali dia menjelek-jelekan universitas tersebut karena
tujuan awalnya adalah masuk Institut Teknologi Bandung atau lebih
familiar disebut ITB. Dia sangat suka fotografi, tapi tak suka memotret
manusia, "Aku lebih suka motret pemandangan daripada manusia. Motret
manusia malah bikin grogi." Ungkapnya santai dengan tawa renyahnya.
Pikirannya sangat idealis, dia punya konsep tersendiri tentang Tuhan
dan agama. Dia punya konsep tersendiri tentang Yesus, Allah, Roh Kudus,
dan Bunda Maria. Ya, dia selalu mengikuti jalan pikirannya, dia selalu
tahu bagaimana cara melangkah mengikuti alur pikirannya.
Semua
berjalan begitu absurd, tapi tak dapat dipungkiri bahwa segala hal yang
kita lewati memang mengalir begitu indah. Dia mengatakan bahwa dia tak
pernah seperhatian itu pada wanita, kecuali pada saya. Ya, awalnya dia
memang sangat dingin, seringkali menghilang, seringkali berbicara
seenak jidatnya, tapi semua bisa terlampaui begitu sukses, dia berubah,
dia menjadi begitu indah. Itulah yang kami sebut cinta, mampu mengubah seseorang menjadi pribadi yang lebih baik.
Saya
adalah ciri-ciri wanita yang agak sedikit penuntut. Ya, maksud saya
menuntut seorang pria yang saya cintai menjadi lebih baik, saya
menuntut pria tersebut melakukan perubahan dalam hidupnya, selama dia
menghabiskan waktunya dengan saya, maka saya harus mengubahnya, maka
dia harus berubah untuk saya dan untuk hubungan kita. Maka, kami harus
berubah, menjadi dua orang yang saling jatuh cinta atas dasar
kasih bukan atas dasar nafsu dan ketertarikan fisik. Seringkali cinta
menciptakan penuntutan, penuntutan untuk mengubah pribadi menjadi lebih
baik. Jujur, saya seringkali jatuh cinta pada pria penurut yang mudah diatur. Saya sangat menghargai seorang pria yang mau berubah untuk hal yang baik.
Dia
pernah jadi seseorang yang penting dalam hidup saya. Dia pernah menjadi
penenang amarah saya, dia pernah menjadi penyebab dari senyum saya,
tapi itu dulu, masa dimana masih ada dia, masa dimana hanya ada tawa
dan senyum malu-malu yang menghiasi perjalanan kita. Dia mengenalkan
saya pada budayanya, dia mengenalkan saya pada dunianya, dia
menjelaskan konsep Tuhan yang ia tahu pada saya. Ya, dia mengajari dan
mengayomi saya, dia tahu persis bagaimana memperlakukan perasaan saya.
Jelas, kami pernah bertengkar hebat. Hingga beberapa hari kami tak saling berhubungan, tapi cinta tetaplah cinta, rindu tetaplah rindu, sulit untuk disembunyikan dan dilupakan. Hingga
pada suatu ketika dia menulis di note facebooknya, bercerita tentang
hubungan kami yang berjudul "Untitled 16". Saya terharu membacanya,
saya menyangka bahwa pria sedingin dan secuek dia tidak mungkin bisa
menulis sedalam itu. Saya tahu ini yang namanya cinta, selalu punya alasan untuk memaafkan.
Pertengkaran kecil kami yang detailnya tidak pernah saya lupakan, seringkali menggelitik rindu setiap mengingatnya.
"Matamu!" Ucapku kasar mengetuk keras gendang telinganya.
"Sipit, Cuk!" Timpalnya dilanjut dengan tawa lepasnya.
"Cino nyebahi!" Aku tak mau kalah, masih saja aku menggoda perasaannya.
"Jowo
marai emosi!" Dia juga tak mau kalah, semonyong-monyongnya bibirnya dia
lakukan hanya untuk menghujani saya dengan pertengkaran kecil yang
disertai canda itu.
Cino
dan Jowo, seringkali menjadi perpaduan yang baik jika berada di tempat
yang seharusnya. Tapi, bisa jadi malapetaka jika tak bersatu pada
tempat yang seharusnya. Seperti yang saya ceritakan pada posting saya
sebelumnya (bisa dibaca terlebih dahulu).
Ah,
tapi yah, sekali lagi saya katakan semua hanya kenangan, semua hanya
pecahan puing-puing retak yang terpecah dari asalnya. Dia menjalani
hidupnya sendiri, sayapun harus menjalani hidup saya sendiri. Memang tidak pernah terpikirkan dan tergambarkan bahwa kita akan berpisah, karena semua mengalir dengan begitu indah.
Tapi, ya memang semua harus berakhir, walau tanpa kata pisah dan kata
putus, walau tanpa kalimat perpisahan dan kalimat mengakhiri. Terkadang, suatu hubungan bisa saja tiba-tiba putus walau tanpa kata putus.
Sekarang,
dia mungkin sedang berbahagia dengan pilihannya. Dan, sekarang saya
bahagia dengan pilihan saya. Saya tak perlu tahu apakah dia bahagia
dengan pilihannya, yang saya tahu cerita kita pernah ada, walaupun memang sudah berakhir.
Terimakasih [G]alium [A]lumunium [N]atrium [I]ridium. Terimakasih
telah mengenalkan saya pada Seno Gumira Ajidarma dan karya-karyanya.
Terimakasih pernah mengharapkan saya sebagai ibu dari anak-anakmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar