Dia
pernah jadi segalanya. Dia pernah temukan dunianya. Dalam
bayang-bayang, dia bahagia dengan caranya. Dia berpikir apa adanya,
menulis dengan jujurnya, tanpa gangguan dari pihak manapun, tanpa ada
pembantaian sedikipun.
Dia
cerdas dalam hal apapun. Dia bicara soal politik, soal agama, soal
cinta, soal rasa, dan segala persoalan yang sulit untuk dilogikan.
Dengan begitu dia dicinta, dengan begitu dia dipuja, walau hanya
melalui dunia maya.
Dia
disukai, dia dicintai, sekaligus dihina dan dibenci. Dia punya
pengikut, dia juga punya penuntut. Dia punya banyak pemuji, dia punya
banyak penghujat. Dia terkenal, dia miliki dunianya, walau tidak dengan
wajah aslinya.
Suatu
hari, dia berpikir bahwa inilah yang dia cari selama ini. Dunia penuh
dengan popularitas yang hanya tercipta melalui tulisan. Ya, dia
terkenal, tapi tak semua orang mencintainya, tapi tak semua orang
membencinya.
Seringkali
dia jujur apa adanya, seringkali dia berbohong melalui topengnya.
Seringkali dia bahagia dengan caranya, seringkali dia menangis karena
dunianya. Dia tak benar-benar bahagia, dia tak benar-benar menderita.
Sesekali dia menangis, sesekali dia meringis.
Ada
banyak rasa yang dia kenal dalam dunianya. Kepalsuan, topeng, tidak
menjadi diri sendiri, menjadi diri sendiri, jatuh cinta, kejujuran,
kebohongan, popularitas, dicintai, dihargai, dicaci-maki. Ah... masih
banyak rasa-rasa lain yang dia simpan dalam hatinya.
Dia
punya teman, dia punya lawan, dalam dunianya semua terasa seimbang.
Semua terasa bergerak konstan. Dia terjatuh lalu bangun. Dia terdiam
lalu bicara. Satu hal yang tidak bisa dia lakukan adalah jujur pada
dirinya sendiri.
Semua
berjalan dengan normal, tapi semua juga berjalan begitu cepat.
Popularitasnya dan orang-orang sekitar yang ada di dunianya telah
menghilang. Ketika semua terbongkar, ketika dia dianggap hina, ketika
dia dianggap pembohong besar, ketika dia kehilangan dunia yang dulu
dibangunnya dari awal.
Satu
hal yang ingin dia tanyakan pada orang-orang yang menghujatnya tapi tak
mengenalnya, "Apa mereka tahu rasanya jadi dirinya ?? "
Dia
adalah tokoh fatamorgana yang tercipta atas dasar keisengan dan atas
dasar main-main. Dia punah oleh terlepasnya topeng itu. Kini dia
bahagia dengan caranya. Kini dia bahagia dengan dunianya. Kini dia
bahagia dengan dirinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar