ini untukmu, yang tak pernah tau..
Aku tak tau harus bagaimana lagi, suaraku tak pernah sekalipun kau
dengar. Lalu aku memutuskan untuk menulis semuanya, tak peduli juga jika
kau tak akan pernah membaca. Kau memang tak mau peduli denganku, apa
juga urusanmu mempedulikan aku, siapa aku??
Asal kau tau, aku tak pernah serapuh ini, benar-benar rapuh. Sampai
akupun tak sadar jika airmata sudah jatuh. Seperti semuanya luruh sampai
aku tak sempat mengaduh. Hancur, luluh tanpa menunggu peluh membasahi
seluruh.
Seandainya aku boleh pinjam bahumu, untuk sekedar menahan biar tak
jatuh, atau tanganmu untuk menopang, atau pula jemarimu untuk genggam
tanganku, biar juga tak terjerembab. Selama ini aku kuat, mampu berjalan
meski terjal menghadang. Aku tahan, meski hujan deras meradang.
Malam ini semakin membuatku kelam, seperti hilang di antara gelap
temaram, tak ada bayang-bayang meski remang. Adakah aku ini bukan bagian
dari pejam? yang kau temukan dalam lelap malammu. Sekedar jadi pendaran
redup di mimpimu? Bisakah kau hadirkan aku dalam satu waktu senggangmu,
setidaknya aku bisa isi kekosongan dan kebosananmu. Aku mau dengar
semua ceritamu, semua keluh kesahmu, telingaku siap mendengar sedihmu,
pun juga bahagiamu, itu yang selalu aku rindu dalam kalbu.
Namun, jika aku belum ada dalam kesemuanya, biarlah. Biar aku saja yang
terus berusaha menarik perhatian matamu. Hingga nanti hatimu mau
menyapaku, dan aku bisa memilikinya. Amin, itu kataku.
Aku menulis ini dengan segenap kekuatanku. Kekuatan untuk mampu
menggerakkan tanganku, biar tulisanku mampu terbaca (untuk yang mau
membaca) dan kata-katanya mampu dipahami, karena aku sendiri tak
memahami, bagaimana bisa aku mencinta dan merindu sampai sejauh ini.
Jauh, sampai aku tersesat dan tak mampu pulang ke jalanku yang dulu.
Jalan di mana aku mampu sendiri tanpamu, sebelum mengenalmu, mengenal
cinta dan akhirnya merindu.
Sudah ya, aku tak sanggup lagi. Aku terlalu rapuh kali ini. Maaf, aku
rapuh…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar